Rabu, 15 Februari 2012

apologos

"orang tolol dipersimpangan"

kemarin, seharusnya aku bisa menikmatinya seperti kebanyakan orang lainnya. sebuah hari perayaan, monumen yang bercerita tentang kisah kisah kasih. ciuman. pelukan. belaian. senyuman. tawa. tepukan. tos. bersama siapapun. kekasihmu. karibmu. anak anakmu. saudaramu. anjingmu. kucingmu. burungmu. ikanmu. gitarmu. motormu. ayammu. kambingmu. sapimu. nenekmu. kakekmu. keluargamu. 

aku tidak merayakan dengannya, yang sebenarnya aku inginkan.

hari itu,,
bagiku memang benar sebuah monumen, monumen dari sebuah peristiwa.  "peristiwa teras" aku menyebutnya.
mengingat peristiwa itu, meskipun aku berusaha untuk mengabaikannya, tetapi sepertinya itu berpengaruh juga dengan emosiku. aku merasa terpuruk. secerah apapun matahari. sesegar apapun udara. seriang apapun sekitar. lalu aku memilih membalut diriku dengan lembaran lembaran plastik.

pesta semalam, aku masih tidak menikmatinya.
seriang apapun aku berusaha berdansa, sehilang apapun aku berusaha menemuinya, dalam mabukku. kejadian kejadian kecil kemarin, membuatku memahami tentang banyak hal dalam diriku. dampratan orang, omelan teman, racauan kawan, keluhan keluhan mereka. pada hal hal kecil keteledoran, flashdisk yang hilang, lupa janjian, kunci terbawa, pintu rumah tertutup,,,

kemarin, selulerku hanya menerima pesan tentang dampratan,
kemarin, selulerku hanya terdengar omelan,
kemarin, aku terasa sampah

hingga menjelang layang tubuhku

selulerku menerima pesan permintaan ma'af
selulerku terdengar kata ma'af
aku lengang, melayang tenang

permintaan ma'af. itu yang terlalu sulit untuk aku lakukan. pada kejadian kejadian kecil, remeh remah, pada banyak orang. sampai seumurku sekarang. sungguh, ternyata tanpa sadar aku telah membunuh secara sistematis keceriaan, keriangan, kegembiraan, kebahagian mereka yang aku impikan menjadi diri mereka sendiri. orang orang dekatku.

"peristiwa teras"
seperti hari perayaan kemarin, beberapa tahunku yang lalu. dengan adiksiku pada alkohol, dengan tanganku yang mudah tersulut, dengan perangai perangku. aku pulang larut. aku tak mendapati pintu yang terbuka, gaduhku tidak juga membuat ia terlihat bangun meski aku tahu ia didalam, aku tidak juga bisa merayunya membukakan pintu. aku tertidur lelap alkohol diatas kursi kayu teras rumah.  matahari sudah tinggi. aku terbangun dan tak juga mendapati pintu yang terbuka. hanya secarik kertas tertempel di pintu "aku pergi". aku tersudut diantara rasa lapar, haus, mulas, kesal, dompet kosong, pengin pipis dan sedikit pulsa. aku ditinggal sendirian dan tak terpikir dia kemana. aku lupa hari itu hari perayaan, aku lupa hari itu seharusnya hari bersamanya. aku merayunya, merengek rengek, " cintaaaaa, kamu dimana?" smsku pertama, berlanjut "cintaaaa,, pintunya terkunci", berikutnya "cintaaaa,, aku lapar", lagi "cintaaaaaa,, aku tak pegang duit". lama aku bersabar, tidak juga selulerku menerima pesan. akupun menelponnya. tak juga diangkat. beberapa kali kuulangi. tak juga aku di gubris. ku kirim lagi sms "cintaaaaa,, tolong angkat telponmu. aku lagi bener butuh kamu" lama tak juga ada balasan. aku menyerah. aku pasrah. aku merasa salah. aku tak pernah meminta ma'af. aku keluar, numpang ke tetangga beberapa lama. sekembalinya, pakaianku berserakan diteras rumah. barang barangku diluar rumah. dia tak juga memandangku, mengacuhkanku. aku terus menerus bertanya kenapa. tapi tak juga meminta ma'af kepadanya.

hari hari berikutnya adalah,,
hehehe..
"orang tolol di persimpangan"

hingga kemarin, aku memahami

dan
pagi tadi,
aku menikmati memperhatikan dua kawanku  menghadap ke matahari yang hangat dari balik kaca. aku melakukannya juga. tersenyum dan selalu berusaha menikmati hangat kasih sayang dunia.

Sabtu, 11 Februari 2012

i-love


yang paling menusuk dan yang paling mengagumkan,,

adalah perasaan jatuh cinta itu sendiri

ia tak berkata kata, hanya bertingkah
menikam bertubi tubi
menyayat,, getahnya akan melumuri
seterang lampu 1200 watt
di hadapan matamu

kau palingkan muka?
kau kehilangan

pernahkah kau temui tuhanmu dalam persetubuhan?

Selasa, 07 Februari 2012

yang tak kembali.

jhonah

" kehilangan adalah saat kau benar benar membutuhkannya "

dia terlahir dari 5 bersaudara, diantara 2 betina dan 3 pejantan, dia pejantan yang masih bertahan mengisi kekosongan rumah ini sampai beberapa bulan berikutnya. yang lain, sudah teradopsi. hanya satu yang mati setelah beberapa jam berada dalam kubangan air, lubang yang dibuat oleh induknya yang tolol, karena kekeliruan prosedur membuat sarang hangat di musim penghujan yang dingin dan cuaca ekstrim seekstrim ekstrimis yang labil.
tampangnya tidak setangguh saudara saudaranya yang sudah pergi, mata yang dimilikinya cenderung mellow semelankolis mata beethoven. pendiam, tak begitu banyak menyalak kecuali pas dia sedang bermain dengan kodok kodok di rumah kosong samping rumah dan hanya menggeram saat ada orang asing datang berandang.  dan tak begitu suka mengibaskan ekornya, selayak induknya yang seringkali berlebihan ketika mencari muka karena tidak begitu diperhatikan.
jhonah, dia menghilang. setelah 3 bulan, setelah dia bisa menyalak lantang, setelah dia bisa berjuang karena lapar, setelah dia bisa berbisik dengan taring dan kukunya ketika terusik. jhonah menghilang..
aku tidak begitu memperhatikannya 1,5 bulan awal awal usianya, kupikir itu adalah saat saat dia begitu membutuhkan dekat dengan ibunya. akupun tidak begitu menganggapnya terlalu istimewa, bagiku dia tetap layaknya binatang yang tidak harus tinggal dalam rumah. sampai kemudian, karena kelancangannya masuk dalam rumah. aku mulai berpikir untuk mengajarinya tentang teritorial yang bisa dia eksplorasi yan teritorial yang tidak bisa dia masuki. tentang wilayah kekuasaan. 
hari pertama, aku ingat sekali. ketika dia mencoba memasuki ruang tengah ruimah dan mengencinginya, aku mencengkeram kepalanya dan beberapa kali menjerembabkan mulutnya ke kencingnya kemudian aku melemparnya keluar. dia menangis sejadi-jadinya lalu menghampiri ibunya mencari perlindungan. kejadiuan seperti itu aku ulangi hingga beberapa kali, meskipun jika dia tidak memasuki rtumah, aku akan memegang lehernya dan mengangkatnya seperti layaknya ketika membawa palu dalam keadaan marahmu. lalu melemparnya diruang tengah rumah dan menutup pintu. memperhatikan tingkahnya yang dengan sejadi jadinya meraung, menangis ingin keluar dari neraka, cakarnya menggaruk-nggaruk pintu, hidungnya mengendus ngendus bau induknya. kejadian seperti itu aku ulangi secara rutin pagi dan sore, akhirnya dia pasrah, mencari kenyamanan dalam setiap penyiksaan. sampai suatu ketika, sebuah perlawanan, dia berbisik dengan kukunya, dengan taringnya, luka kecil banyak menggores tangan dan kakiku. aku sedikit lega, tersenyum simpul ketika melihatnya dari kejauhan. si jhonah sudah mulai liar. jalannya sudah terlihat angkuh, menyalaknya mulai berani, matanya berbinar  garang. dan baku semakin menjadi jadi ketika memperlakukannya, aku lebih suka menendang ketika dia mendekat dan mengajak bermain. aku suka melemparnya dibelakang rumah yang rimbun semak dan rumput, aku berpikir ruang itulah tempatnya. aku mengkarantinanya disitu beberapa hari, jauh dari ibunya. dalam lapar, hanya air hujan. sampai kemudian dia terlihat asyik bermain dengan seekor burung gereja, dan mencacahnya lalu menelannya dengan riang. itu adalah makanan pertamanya, yang didapatkan dengan sendirinya.
tubuhnya semakin membesar, kaki kakinya sudah kelihatan tumbuh otot. semakin gagah, lebih mirip maskot singa milik arema jika sedang berbaring ditanah. ketika duduk berdiam diri, dia benar benar seperti penjaga. jhonah tak lagi bertingkah lemah meski pendiam. jhonah sudah menghabisi selokan, jhonah sudah mambantai perkebunan, jhonah sudah menjelajahi rumah rumah kosong dan tempat tempat sampah tetangga. 
entah, setelah beberapa hariku yang buruk, satu malam yang larut, dalam kepulanganku yang terpuruk. aku menarik dia dari tidurnya yang lelap dikandangnya. aku mengajaknya tidur dalam rumah, aku benar benar butuh teman saat itu.  aku meletakkannya diatas kasur, dan aku berbaring disebelahnya, menarik selimut mencoba menghangatkan tubuh dan pikiranku yang mabuk . dia hanya duduk tak bertingkah, mencoba memperhatikanku sepertinya. lama. aku hanya terdiam, tak juga tertidur. akhirnya, dia berbaring diatas selimut, tepat diatas kakiku. aku hanya mendengar uapan dan gelatukan rahangnya berusaha mengkantuk kantukan matanya. akui terendam ketenangan dan beranjak lelap. keesokan harinya, aku terbangun dan dia sudah duduk melihatku disamping kepalaku, menggelengkan kepalanya. lalu dia beranjak menuju pintu, menginginkan keluar.
hingga suatu pagi, setelah beberapa hari ketakpulanganku. jhonah menghilang. aku tak juga menghiraukannya, aku berrpikir dia sedang berpetualang. hingga berhari hari,, lalu akupun mulai merindukannya. akupun mulai menanyakannya. akupun mulai mendoakannya. "semoga semua makhluk berbahagia!"