menyerah?
aku sudah lupa apa makna kata-kata itu..
Kamis, 30 Juni 2011
Kamis, 09 Juni 2011
halamun,
petang tadi, di warung makan yang pelanggannya kebanyakan mahasiswa yang berpasang pasangan, yang berdandan tropik, celana pendek kaos oblong yang laki ataupun yang perempuan.
mati lampu yang beberapa jam,,
aku yang sedikit melamun.
di sebelahku, seorang kawan yang baru saja lulus. hanya saja, dia masih terbebani revisi revisi yang malah membuatnya seperti berada dalam suasana pengambilan gambar untuk sinetron yang dikejar tayang. tegang!
ia menanyakan apa saja yang ada dipikiranku ketika aku terhanyut lamun,
lamunanku buyar tiba tiba,,
apa yang ada dipikiranku?
hehe,,
aku selalu tersenyum untuk memulai sebuah percakapan,,
terlepas itu adalah senyum sinis, senyum licik, senyum picik, senyum kecut, senyum miris atau apapunlah sebutannya.
lalu, aku menarik napas panjang, napas yang aku gunakan untuk menghimpun segala penat yang menyelimuti otak dan kemudian aku hempaskan diikuti suaraku yang berubah menjadi parau dan sedikit berat saat selanjutnya berkata kata.
hmmm... apa yang aku pikirkan?
negara!
hehe..,
iya, aku sebagai warga negara yang bernegara
kawanku tersenyum memicingkan mata, menurutku itu respon yang meremehkan ucapanku.
banyak.
banyak hal yang ada dibenakku..
tapi,
untuk saat ini, aku lebih memilih untuk memikirkan bagaimana sekolahku bisa berlanjut.
banyak hal yang aku pertaruhkan,
aku beranggapan salah satu kunci yang membuka pintu kemana saja adalah studi.
begini..,
aku berusaha untuk membuatnya tidak lagi tersungut sungut apalagi memicingkan mata
dulu, waktu aku kecil
kata kata yang aku ingat dari bapakku hanyalah
"suatu saat, beberapa tahun kedepan saat anakmu sudah mulai dewasa
segala hal yang dilihat oleh orang hanya penampilan mereka saja"
itu adalah perkataan bapakku yang ditujukan pada ibuku.
huftt..,
tidak tahu kenapa, sepertinya kata kata itu sangat berpengaruh pada pemikiranku selanjutnya, yang mendasari setiap perilaku dan tindakan yang aku ambil ketika aku menghadapi situasi apapun.
aku jadi sangat tertantang untuk membuktikan bahwa kata kata bapakku itu adalah salah.
akupun tumbuh dengan berkeyakinan bahwa untuk menjadi orang yang dilihat sebagai manusia yang utuh tidak harus menjadi seperti orang inginkan. dan akupun menjadi orang yang semauku, sulit diatur dalam berpenampilan, acak kadut, liar, siapapun aku bantah,, tetangga, mbah, pakde, budhe, paklik, bulek.
aku menyukai berhadap-hadapan langsung, ketika aku berada dalam sebuah permasalahan. aku tidak suka orang yang berbicara di belakang, dan membuat versi yang berbeda dari sebuah peristiwa yang mereka ceritakan pada keluargaku.
itu masa masa dimana aku masih kecil,
aku melirik ekspresi wajah kawanku,
aku tidak ingin meihat dia tidak tertarik dengan ceritaku.
ah, sepertinya dia mulai jenuh
aku melanjutkan ceritaku,
bagiku, hal hal tadi sangat berhubungan erat dengan apa yang aku pikirkan saat ini.
perkataan bapakku, adalah benar benar terjadi sekarang ini.., dan aku berusaha untuk menjadi sosok yang kompromis, penuh siasat, sekaligus menjadi sosok yang jujur dalam waktu yang bersamaan. jujur saja, aku baru bisa menerima pemikiran kalo istilah jawanya " sing didelok iku prejengane, " dan banyak orang yang berkata padaku bahwa kekuranganku hanya satu itu, penampilan. lebih dari 26 orang yang berkata padaku ketika kami memperbincangka sesuatu dengan serius.
sekarang, di usiaku yang hampir menginjak 30an tahun. yang berarti, adalah separo dari umur rata rata manusia hidup di dunia. terkadang, aku menyesali banyak hal yang seharusnya tidak aku lewatkan begitu saja dalam kurun waktu 7 tahun ke belakang. mungkin hampir sewindhu, aku merasa menjadi orang yang sangat lambat untuk bisa menerima sebuah keadaan yang disitu aku diharuskan untuk menyerah.
mati lampu yang beberapa jam,,
aku yang sedikit melamun.
di sebelahku, seorang kawan yang baru saja lulus. hanya saja, dia masih terbebani revisi revisi yang malah membuatnya seperti berada dalam suasana pengambilan gambar untuk sinetron yang dikejar tayang. tegang!
ia menanyakan apa saja yang ada dipikiranku ketika aku terhanyut lamun,
lamunanku buyar tiba tiba,,
apa yang ada dipikiranku?
hehe,,
aku selalu tersenyum untuk memulai sebuah percakapan,,
terlepas itu adalah senyum sinis, senyum licik, senyum picik, senyum kecut, senyum miris atau apapunlah sebutannya.
lalu, aku menarik napas panjang, napas yang aku gunakan untuk menghimpun segala penat yang menyelimuti otak dan kemudian aku hempaskan diikuti suaraku yang berubah menjadi parau dan sedikit berat saat selanjutnya berkata kata.
hmmm... apa yang aku pikirkan?
negara!
hehe..,
iya, aku sebagai warga negara yang bernegara
kawanku tersenyum memicingkan mata, menurutku itu respon yang meremehkan ucapanku.
banyak.
banyak hal yang ada dibenakku..
tapi,
untuk saat ini, aku lebih memilih untuk memikirkan bagaimana sekolahku bisa berlanjut.
banyak hal yang aku pertaruhkan,
aku beranggapan salah satu kunci yang membuka pintu kemana saja adalah studi.
begini..,
aku berusaha untuk membuatnya tidak lagi tersungut sungut apalagi memicingkan mata
dulu, waktu aku kecil
kata kata yang aku ingat dari bapakku hanyalah
"suatu saat, beberapa tahun kedepan saat anakmu sudah mulai dewasa
segala hal yang dilihat oleh orang hanya penampilan mereka saja"
itu adalah perkataan bapakku yang ditujukan pada ibuku.
huftt..,
tidak tahu kenapa, sepertinya kata kata itu sangat berpengaruh pada pemikiranku selanjutnya, yang mendasari setiap perilaku dan tindakan yang aku ambil ketika aku menghadapi situasi apapun.
aku jadi sangat tertantang untuk membuktikan bahwa kata kata bapakku itu adalah salah.
akupun tumbuh dengan berkeyakinan bahwa untuk menjadi orang yang dilihat sebagai manusia yang utuh tidak harus menjadi seperti orang inginkan. dan akupun menjadi orang yang semauku, sulit diatur dalam berpenampilan, acak kadut, liar, siapapun aku bantah,, tetangga, mbah, pakde, budhe, paklik, bulek.
aku menyukai berhadap-hadapan langsung, ketika aku berada dalam sebuah permasalahan. aku tidak suka orang yang berbicara di belakang, dan membuat versi yang berbeda dari sebuah peristiwa yang mereka ceritakan pada keluargaku.
itu masa masa dimana aku masih kecil,
aku melirik ekspresi wajah kawanku,
aku tidak ingin meihat dia tidak tertarik dengan ceritaku.
ah, sepertinya dia mulai jenuh
aku melanjutkan ceritaku,
bagiku, hal hal tadi sangat berhubungan erat dengan apa yang aku pikirkan saat ini.
perkataan bapakku, adalah benar benar terjadi sekarang ini.., dan aku berusaha untuk menjadi sosok yang kompromis, penuh siasat, sekaligus menjadi sosok yang jujur dalam waktu yang bersamaan. jujur saja, aku baru bisa menerima pemikiran kalo istilah jawanya " sing didelok iku prejengane, " dan banyak orang yang berkata padaku bahwa kekuranganku hanya satu itu, penampilan. lebih dari 26 orang yang berkata padaku ketika kami memperbincangka sesuatu dengan serius.
sekarang, di usiaku yang hampir menginjak 30an tahun. yang berarti, adalah separo dari umur rata rata manusia hidup di dunia. terkadang, aku menyesali banyak hal yang seharusnya tidak aku lewatkan begitu saja dalam kurun waktu 7 tahun ke belakang. mungkin hampir sewindhu, aku merasa menjadi orang yang sangat lambat untuk bisa menerima sebuah keadaan yang disitu aku diharuskan untuk menyerah.
Rabu, 08 Juni 2011
aromamu kemarau..
kuas, pensil, cat cat,, ah tempertin!
kanvas, kertas kertas kosong..
jujur.., hal hal itu membuatku gundah. gundah, ketakutan yang tak terperikan. jari jari, pergelangan tangan, persendian, ubun ubun, tengkuk, otot kaki, sembilu ngilu..
jalan jalan, kembang randu, bau sangit asap asap daun dan ranting kering yang terbakar, benar benar aroma kemarau yang menggigilkan ingatanku, seperti angin yang berasal dari gunung gunung di kotamu, yang membuatmu berselimut tebal ditidur malammu.
aku menginginkannya dalam genangan cat, gurat gurat pensil, warna warna pelangi, senyum rengkuh belacu berukuran 140 x 90 sentimeter.
sekedar meluap sesak sesal membunuh kesal
aromamu yang kemarau,
menusuk tulang lunak hidungku
teluh peluhmu.
kanvas, kertas kertas kosong..
jujur.., hal hal itu membuatku gundah. gundah, ketakutan yang tak terperikan. jari jari, pergelangan tangan, persendian, ubun ubun, tengkuk, otot kaki, sembilu ngilu..
jalan jalan, kembang randu, bau sangit asap asap daun dan ranting kering yang terbakar, benar benar aroma kemarau yang menggigilkan ingatanku, seperti angin yang berasal dari gunung gunung di kotamu, yang membuatmu berselimut tebal ditidur malammu.
aku menginginkannya dalam genangan cat, gurat gurat pensil, warna warna pelangi, senyum rengkuh belacu berukuran 140 x 90 sentimeter.
sekedar meluap sesak sesal membunuh kesal
aromamu yang kemarau,
menusuk tulang lunak hidungku
teluh peluhmu.
Selasa, 07 Juni 2011
seperti itu..
aku seperti anak anak itu,,
ia kehilangan bonekanya, boneka yang menemaninya membangun dunia teragung
tercantik yang pernah dibuat
aku tak lagi mampu mengolesi kertas kertas itu dengan bercak bercak
yang mungkin bagimu ini hanya coretan anak kecil yang ia sendiri tak pernah,
tak pernah memahami kenapa dan untuk apa ia menuliskannya begitu saja
kau ingat?
seperti apa kau memperlakukan boneka bonekamu,,
memainkan robot robotanmu,
mengendarai mobil mobilanmu,
kau ingat,,
sepertinya kau memperlakukan mereka adalah sesuatu yang benar benar ada
dan selalu bisa ada disetiap ceritamu
yang menemanimu tertawa,
yang menemanimu menangis,
yang menemanimu terkekeh,
yang menemanimu marah,
yang membuatmu kecewa,
yang kau jadikan alasan
dari segala hal kesalahan yang pernah kau rasakan
dan kemudian,
ia pergi begitu saja..
seperti apa diriku?
yang mencampakkan segala hal begitu saja,,
kemudian beranggapan
mereka tak pernah hadir,
...
igau terampas kicauan burung yang tak merdu
kita pergi begitu saja,
menyisakan mimpi yang aku sendiri
tak pernah menyadari itu ada
ia kehilangan bonekanya, boneka yang menemaninya membangun dunia teragung
tercantik yang pernah dibuat
aku tak lagi mampu mengolesi kertas kertas itu dengan bercak bercak
yang mungkin bagimu ini hanya coretan anak kecil yang ia sendiri tak pernah,
tak pernah memahami kenapa dan untuk apa ia menuliskannya begitu saja
kau ingat?
seperti apa kau memperlakukan boneka bonekamu,,
memainkan robot robotanmu,
mengendarai mobil mobilanmu,
kau ingat,,
sepertinya kau memperlakukan mereka adalah sesuatu yang benar benar ada
dan selalu bisa ada disetiap ceritamu
yang menemanimu tertawa,
yang menemanimu menangis,
yang menemanimu terkekeh,
yang menemanimu marah,
yang membuatmu kecewa,
yang kau jadikan alasan
dari segala hal kesalahan yang pernah kau rasakan
dan kemudian,
ia pergi begitu saja..
seperti apa diriku?
yang mencampakkan segala hal begitu saja,,
kemudian beranggapan
mereka tak pernah hadir,
...
igau terampas kicauan burung yang tak merdu
kita pergi begitu saja,
menyisakan mimpi yang aku sendiri
tak pernah menyadari itu ada
permainan?
itulah, kenapa disebut impresi.
dalam dekat dekapmu telunjukmu hanya mencolek serpih serpihan.
matamu temaram, hidungmu memerah, otot pipimu semu membiru.
kau hanya bagian kecil permainan, bagian kecil serpih serpihan,,
sedikit menjauh, kau kumpulkan sejentik jentik rupa mereka ..
lihat! sudah berbentuk,
ssstt.. jangan pernah menceritakan pada siapapun....
dalam dekat dekapmu telunjukmu hanya mencolek serpih serpihan.
matamu temaram, hidungmu memerah, otot pipimu semu membiru.
kau hanya bagian kecil permainan, bagian kecil serpih serpihan,,
sedikit menjauh, kau kumpulkan sejentik jentik rupa mereka ..
lihat! sudah berbentuk,
ssstt.. jangan pernah menceritakan pada siapapun....
Langganan:
Postingan (Atom)