"orang tolol dipersimpangan"
kemarin, seharusnya aku bisa menikmatinya seperti kebanyakan orang lainnya. sebuah hari perayaan, monumen yang bercerita tentang kisah kisah kasih. ciuman. pelukan. belaian. senyuman. tawa. tepukan. tos. bersama siapapun. kekasihmu. karibmu. anak anakmu. saudaramu. anjingmu. kucingmu. burungmu. ikanmu. gitarmu. motormu. ayammu. kambingmu. sapimu. nenekmu. kakekmu. keluargamu.
aku tidak merayakan dengannya, yang sebenarnya aku inginkan.
hari itu,,
bagiku memang benar sebuah monumen, monumen dari sebuah peristiwa. "peristiwa teras" aku menyebutnya.
mengingat peristiwa itu, meskipun aku berusaha untuk mengabaikannya, tetapi sepertinya itu berpengaruh juga dengan emosiku. aku merasa terpuruk. secerah apapun matahari. sesegar apapun udara. seriang apapun sekitar. lalu aku memilih membalut diriku dengan lembaran lembaran plastik.
pesta semalam, aku masih tidak menikmatinya.
seriang apapun aku berusaha berdansa, sehilang apapun aku berusaha menemuinya, dalam mabukku. kejadian kejadian kecil kemarin, membuatku memahami tentang banyak hal dalam diriku. dampratan orang, omelan teman, racauan kawan, keluhan keluhan mereka. pada hal hal kecil keteledoran, flashdisk yang hilang, lupa janjian, kunci terbawa, pintu rumah tertutup,,,
kemarin, selulerku hanya menerima pesan tentang dampratan,
kemarin, selulerku hanya terdengar omelan,
kemarin, aku terasa sampah
hingga menjelang layang tubuhku
selulerku menerima pesan permintaan ma'af
selulerku terdengar kata ma'af
aku lengang, melayang tenang
permintaan ma'af. itu yang terlalu sulit untuk aku lakukan. pada kejadian kejadian kecil, remeh remah, pada banyak orang. sampai seumurku sekarang. sungguh, ternyata tanpa sadar aku telah membunuh secara sistematis keceriaan, keriangan, kegembiraan, kebahagian mereka yang aku impikan menjadi diri mereka sendiri. orang orang dekatku.
"peristiwa teras"
seperti hari perayaan kemarin, beberapa tahunku yang lalu. dengan adiksiku pada alkohol, dengan tanganku yang mudah tersulut, dengan perangai perangku. aku pulang larut. aku tak mendapati pintu yang terbuka, gaduhku tidak juga membuat ia terlihat bangun meski aku tahu ia didalam, aku tidak juga bisa merayunya membukakan pintu. aku tertidur lelap alkohol diatas kursi kayu teras rumah. matahari sudah tinggi. aku terbangun dan tak juga mendapati pintu yang terbuka. hanya secarik kertas tertempel di pintu "aku pergi". aku tersudut diantara rasa lapar, haus, mulas, kesal, dompet kosong, pengin pipis dan sedikit pulsa. aku ditinggal sendirian dan tak terpikir dia kemana. aku lupa hari itu hari perayaan, aku lupa hari itu seharusnya hari bersamanya. aku merayunya, merengek rengek, " cintaaaaa, kamu dimana?" smsku pertama, berlanjut "cintaaaa,, pintunya terkunci", berikutnya "cintaaaa,, aku lapar", lagi "cintaaaaaa,, aku tak pegang duit". lama aku bersabar, tidak juga selulerku menerima pesan. akupun menelponnya. tak juga diangkat. beberapa kali kuulangi. tak juga aku di gubris. ku kirim lagi sms "cintaaaaa,, tolong angkat telponmu. aku lagi bener butuh kamu" lama tak juga ada balasan. aku menyerah. aku pasrah. aku merasa salah. aku tak pernah meminta ma'af. aku keluar, numpang ke tetangga beberapa lama. sekembalinya, pakaianku berserakan diteras rumah. barang barangku diluar rumah. dia tak juga memandangku, mengacuhkanku. aku terus menerus bertanya kenapa. tapi tak juga meminta ma'af kepadanya.
hari hari berikutnya adalah,,
hehehe..
"orang tolol di persimpangan"
hingga kemarin, aku memahami
dan
pagi tadi,
aku menikmati memperhatikan dua kawanku menghadap ke matahari yang hangat dari balik kaca. aku melakukannya juga. tersenyum dan selalu berusaha menikmati hangat kasih sayang dunia.