tentang pesan pesan ataupun surat suratku terdahulu..
aku tak pernah dalam sadar menuliskannya untukmu
hanya saja yang aku sadari dari ketidaksadaranku adalah kejujuranku,
sikapku, tingkahku, perilakuku sebagaimana sebenarnya diriku pada dunia.. pada hidup
pada kenyataan.
tentang ketidaksadaran melawan ketidaksadaran
tentang api yang melawan api
tentang pemberontakan!
tentang protes!
akupun tidak pernah mau menyadari
kepada mereka yang tidak menyadarinya
aku tak pernah mau menuntut!
kepadamu, aku tak lupa bersyukur
kisahmu mengingatkanku untuk selalu jatuh cinta.
itu yang aku kagumkan padamu
Selasa, 27 September 2011
Jumat, 02 September 2011
Selasa, 02 Agustus 2011
kemerdekaan?
dapur ..
berhadapan dengan kompor, penggorengan, panci, minyak goreng, lombok, bawang merah, bawang putih, tatakan, berpegang pisau yang selalu aku asah setiap kali aku akan mengiris, menyayat, menguliti, menyulut api, memanasi minyak, merebus air, menanak nasi,,
adalah saat saat dimana aku merasakan kemerdekaan, aku tidak akan menerima kritikan, usulan, bantuan, ataupun hal hal lainnya. karena aku akan merasa bahwa itu adalah sebuah ancaman bagi kebebasanku, gangguan bagi keleluasaanku untuk bertindak apapun terhadap segala sesuatu yang sedang aku hadapi dengan sebilah pisau dapur ditanganku.
dapur,, meramu sesuatu
begitulah perasaan merdeka bagiku
dan menyajikannya hangat kerjakerasku kepadamu adalah perasaan berkuasa,
sebuah kekuasaan memberikan makan untuk perutmu yang lapar, untuk otakmu yang dahaga
merasai kebanggaan dalam matamu yang berbinar, kulitmu yang berkeringat, lenguh sendawak tenggorokmu
bagiku,,
kemerdekaan ada dalam dapurmu
kekuasaan ada dalam makanan yang kau sajikan pada mereka
kebanggaan ada dalam mata yang berbinar dan lenguh sendawak punya mereka
berhadapan dengan kompor, penggorengan, panci, minyak goreng, lombok, bawang merah, bawang putih, tatakan, berpegang pisau yang selalu aku asah setiap kali aku akan mengiris, menyayat, menguliti, menyulut api, memanasi minyak, merebus air, menanak nasi,,
adalah saat saat dimana aku merasakan kemerdekaan, aku tidak akan menerima kritikan, usulan, bantuan, ataupun hal hal lainnya. karena aku akan merasa bahwa itu adalah sebuah ancaman bagi kebebasanku, gangguan bagi keleluasaanku untuk bertindak apapun terhadap segala sesuatu yang sedang aku hadapi dengan sebilah pisau dapur ditanganku.
dapur,, meramu sesuatu
begitulah perasaan merdeka bagiku
dan menyajikannya hangat kerjakerasku kepadamu adalah perasaan berkuasa,
sebuah kekuasaan memberikan makan untuk perutmu yang lapar, untuk otakmu yang dahaga
merasai kebanggaan dalam matamu yang berbinar, kulitmu yang berkeringat, lenguh sendawak tenggorokmu
bagiku,,
kemerdekaan ada dalam dapurmu
kekuasaan ada dalam makanan yang kau sajikan pada mereka
kebanggaan ada dalam mata yang berbinar dan lenguh sendawak punya mereka
Sabtu, 23 Juli 2011
terhapus,
aku menulis kata
aku menghapus jejak
aku berkalang kabut, berdurasi 1000 tahun tak beranjak
bebal desak kepala pitak
aku tak jua beranjak
kepalaku gatal, tanganku pegal, tulangku bebal
ayolah,,
sedikit saja, berikan pilin pupil mataku
aku jadi teringat perkataan kawanku
"otaknya kesemutan, lama tidak berasap"
kurasai itu sekarang,
ayolah,, ajak aku kemana saja!
aku menghapus jejak
aku berkalang kabut, berdurasi 1000 tahun tak beranjak
bebal desak kepala pitak
aku tak jua beranjak
kepalaku gatal, tanganku pegal, tulangku bebal
ayolah,,
sedikit saja, berikan pilin pupil mataku
aku jadi teringat perkataan kawanku
"otaknya kesemutan, lama tidak berasap"
kurasai itu sekarang,
ayolah,, ajak aku kemana saja!
Rabu, 20 Juli 2011
ia?
..apakah seorang anak?
ia adalah monumen hidup yang mengingatkanmu pada kisah kisah kecilmu, yang menyimpan pertemuan pertemuanmu dengan orang orang yang membangun sejarah panjang seumur usiamu.
..apakah seorang anak?
ia bagaikan pita panjang yang akan mengantarmu pada tawa, tangis, ...kisah kisah yang terbungkus rapi dalam senyuman mungil dan mengingatkamu tentang dirimu ..seperti adanya,
apakah anak anakmu?
ia bagaikan jiwa jiwa, melalang dalam dalam dihidupmu,
apakah ia?
..seorang anak yang akan membekalimu dengan keberanian keberanian..
ia adalah monumen hidup yang mengingatkanmu pada kisah kisah kecilmu, yang menyimpan pertemuan pertemuanmu dengan orang orang yang membangun sejarah panjang seumur usiamu.
..apakah seorang anak?
ia bagaikan pita panjang yang akan mengantarmu pada tawa, tangis, ...kisah kisah yang terbungkus rapi dalam senyuman mungil dan mengingatkamu tentang dirimu ..seperti adanya,
apakah anak anakmu?
ia bagaikan jiwa jiwa, melalang dalam dalam dihidupmu,
apakah ia?
..seorang anak yang akan membekalimu dengan keberanian keberanian..
Minggu, 17 Juli 2011
ialah hidup II
hidup..
ia bukan soal kau menjadi yang terbaik, yang tercantik, yang terkaya, yang termiskin, paling busuk, paling bijak, paling berkuasa, ataupun paling benar.
hidup, adalah soal penaklukan terhadap peperangan yang bergemuruh hebat dihatimu. sementara, kau berhadapan, bersinggungan, bersanding, berpaling, berunding, bertanding dengan manusia lain.
lalu, kaupun mempertanyakan kembali tentang kemenanganmu, sebagai yang terbaik, terhadap dirimu sendiri. benarkah sudah yang kau nilai?
lalu, kaupun mengulang perangmu, paling baik darimu terhadap dirimu sendiri. kemenanganmu bernilai?
ia bukan soal kau menjadi yang terbaik, yang tercantik, yang terkaya, yang termiskin, paling busuk, paling bijak, paling berkuasa, ataupun paling benar.
hidup, adalah soal penaklukan terhadap peperangan yang bergemuruh hebat dihatimu. sementara, kau berhadapan, bersinggungan, bersanding, berpaling, berunding, bertanding dengan manusia lain.
lalu, kaupun mempertanyakan kembali tentang kemenanganmu, sebagai yang terbaik, terhadap dirimu sendiri. benarkah sudah yang kau nilai?
lalu, kaupun mengulang perangmu, paling baik darimu terhadap dirimu sendiri. kemenanganmu bernilai?
Jumat, 15 Juli 2011
memandikan birah
aku bisa berlama lama duduk terdiam termangu tak berguna
hanya ketika berada dalam tungku kanvas yang memanasi air,
air yang akan memandikanku dalam geliat angan, birah.
yang membujurkakukan kakiku
yang membekukan kelu
yang membendung kidung
aku mandikan birah
dalam tungku kanvas
agar tak lulu kidung
agar tak lagi kelu
agar tak kaki kaku
hanya ketika berada dalam tungku kanvas yang memanasi air,
air yang akan memandikanku dalam geliat angan, birah.
yang membujurkakukan kakiku
yang membekukan kelu
yang membendung kidung
aku mandikan birah
dalam tungku kanvas
agar tak lulu kidung
agar tak lagi kelu
agar tak kaki kaku
Kamis, 14 Juli 2011
pelajaran II
"jangan bergeming!" tubuhmu adalah semesta.
lihat, dengar, rasakan ..kejayaan ada diujung hidungmu.
Selasa, 12 Juli 2011
selesai?
buntu,
deadlock,
apa yang akan kau tuliskan jika otakmu berhenti berbicara tentang sesuatu? seperti sekarang ini, aku mencoba untuk berdiam diri sejenak dan membiarkan kata kata, bait bait saling terkait dan tertumbuk menjadi sebuah ramuan. ah, tidak berhasil.
aku masih saja buntu. jemariku menggelitik, berusaha memancing keluar huruf setiap kali kepala berdenyut, selengut ..pelan ubun ubunku terasa ada yang bergerak, tidak sedetak jantung, lebih pelan dari denyut nadi. jemariku menggelitik, berharap menggumpal kait bait.
hal seperti ini seringkali membuatku gelisah, ia bisa datang begitu saja dengan tiba tiba. aku seperti merasa adalah keharusan untuk menumpahkan penat, menyemburkannya, memuntahkannya, mengencingkannya, dalam situasi apapun. aku bisa menjadi sangat autis seperti seolah olah aku membangun, dan mempunyai duniaku sendiri. aku menjadi acuh dengan sekitar, karena perasaan ketakutanku, akan kehilangan apa yang telah terjadi dan telah aku hasilkan dalam pikiranku. aku begitu posesif,, tidak boleh ada yang merampasnya meskipun sedetikpun.
rasa sakit yang akan aku terima jika ada yang memaksa untuk mencuri perhatianku yang membuatku berhenti menikmati saat saat aku menikmati waktuku untuk berpikir, seperti saat ini. otakku terasa pegal, perasaanku jengah, emosiku buncah. seketika aku akan menjadi sangat labil. aku merasa kehilangan sesuatu yang membuatku berharga. meskipun, ketika aku berusaha untuk mendokumetasikan kait bait kata kataku, aku sendiri butuh waktu lagi untuk memahami apa yang telah aku catatkan. setelah itu, yang ada dibenakku aku harus memberitahukannya pada seseorang tentang sesuatu yang telah berhasil aku pikirkan. jika tidak, maka aku akan mengalami kondisi yang labil dan tak terarah, seperti saat ini.
buntu.
terasa ada yang menyumbat pembuluh darah yang ada dibawah otakku.
ah, harusnya ada beer yang menemani..
paling tidak aku bisa tertidur cepat
tanpa beranjak saat berpijak
lalu, terlentang begitu saja
selesai?
belum, ini selalu sebuah permulaan.
deadlock,
apa yang akan kau tuliskan jika otakmu berhenti berbicara tentang sesuatu? seperti sekarang ini, aku mencoba untuk berdiam diri sejenak dan membiarkan kata kata, bait bait saling terkait dan tertumbuk menjadi sebuah ramuan. ah, tidak berhasil.
aku masih saja buntu. jemariku menggelitik, berusaha memancing keluar huruf setiap kali kepala berdenyut, selengut ..pelan ubun ubunku terasa ada yang bergerak, tidak sedetak jantung, lebih pelan dari denyut nadi. jemariku menggelitik, berharap menggumpal kait bait.
hal seperti ini seringkali membuatku gelisah, ia bisa datang begitu saja dengan tiba tiba. aku seperti merasa adalah keharusan untuk menumpahkan penat, menyemburkannya, memuntahkannya, mengencingkannya, dalam situasi apapun. aku bisa menjadi sangat autis seperti seolah olah aku membangun, dan mempunyai duniaku sendiri. aku menjadi acuh dengan sekitar, karena perasaan ketakutanku, akan kehilangan apa yang telah terjadi dan telah aku hasilkan dalam pikiranku. aku begitu posesif,, tidak boleh ada yang merampasnya meskipun sedetikpun.
rasa sakit yang akan aku terima jika ada yang memaksa untuk mencuri perhatianku yang membuatku berhenti menikmati saat saat aku menikmati waktuku untuk berpikir, seperti saat ini. otakku terasa pegal, perasaanku jengah, emosiku buncah. seketika aku akan menjadi sangat labil. aku merasa kehilangan sesuatu yang membuatku berharga. meskipun, ketika aku berusaha untuk mendokumetasikan kait bait kata kataku, aku sendiri butuh waktu lagi untuk memahami apa yang telah aku catatkan. setelah itu, yang ada dibenakku aku harus memberitahukannya pada seseorang tentang sesuatu yang telah berhasil aku pikirkan. jika tidak, maka aku akan mengalami kondisi yang labil dan tak terarah, seperti saat ini.
buntu.
terasa ada yang menyumbat pembuluh darah yang ada dibawah otakku.
ah, harusnya ada beer yang menemani..
paling tidak aku bisa tertidur cepat
tanpa beranjak saat berpijak
lalu, terlentang begitu saja
selesai?
belum, ini selalu sebuah permulaan.
Minggu, 10 Juli 2011
kau yang dungu?
biarkan mereka seperti diri mereka apaadanya
kenapa harus merubahnya seperti dirimu yang dungu?
kenapa harus merubahnya seperti dirimu yang dungu?
Rabu, 06 Juli 2011
ah,, jujur saja
aku merindukanmu sangat
sepertinya kau juga tak peduli
ah,,
jujur saja
aku merindumu erat
memakumu cekat
dalam dinding dinding hati yang tak terukur jumlahnya
jujur saja
aku merindumu
aku menyimpannya rapat
aku mengurainya rapi
terkadang saja aku menempelnya serampangan
agar mereka mendengar
dan
tak perlu terlalu berlalu
serampangan, agar mereka tak perlu mau tahu
ah,, jujur saja
aku merindumu sangat
sepertinya kau juga tak peduli
ah,,
jujur saja
aku merindumu erat
memakumu cekat
dalam dinding dinding hati yang tak terukur jumlahnya
jujur saja
aku merindumu
aku menyimpannya rapat
aku mengurainya rapi
terkadang saja aku menempelnya serampangan
agar mereka mendengar
dan
tak perlu terlalu berlalu
serampangan, agar mereka tak perlu mau tahu
ah,, jujur saja
aku merindumu sangat
Selasa, 05 Juli 2011
aku terjaga dan berujung remujung
berujung remujung
jalan jalan pagi sudah lenyap jam jam begini,
mimpi kemarin masih tersisa asbak dan gulungan kalkir sebuah sapaan
yang belum satupun ku olesi cat cat
masih putih dan terbungkus rapi dalam kantong plastik berukuran L
hanya satu aku culik, aku kehabisan beskap
seragam yang biasa dipakai
oleh abdi dalem
sudah kutanggalkan sebelum tidur semalam
aku terlelap begitu saja,
sepertinya hari yang berat kemarin
tidak banyak yang aku lakukan mungkin,
hanya saja banyak yang terbeban dalam benak
aku kesulitan hanya sekedar bernapas untuk ruangku sendiri,
aku terjaga, berujung remujung dan jalan jalan pagi sudah senyap berkalang asap
asap asap rokok
sepertinya
aku harus bangun sebuah ruangan lebih besar
jalan jalan pagi sudah lenyap jam jam begini,
mimpi kemarin masih tersisa asbak dan gulungan kalkir sebuah sapaan
yang belum satupun ku olesi cat cat
masih putih dan terbungkus rapi dalam kantong plastik berukuran L
hanya satu aku culik, aku kehabisan beskap
seragam yang biasa dipakai
oleh abdi dalem
sudah kutanggalkan sebelum tidur semalam
aku terlelap begitu saja,
sepertinya hari yang berat kemarin
tidak banyak yang aku lakukan mungkin,
hanya saja banyak yang terbeban dalam benak
aku kesulitan hanya sekedar bernapas untuk ruangku sendiri,
aku terjaga, berujung remujung dan jalan jalan pagi sudah senyap berkalang asap
asap asap rokok
sepertinya
aku harus bangun sebuah ruangan lebih besar
Minggu, 03 Juli 2011
kontraproduktif?
kemarin sore,,
weekend bagi yang merayakannya bersama anak anak, istri, suami, kekasih, bapak, ibu, saudara, jalan jalan dipadati motor, mobil, pedestrian, fixxer,
jalan jalan dipenuhi pikiran pikiran, villa,parfum, mandi, keramas, jajan, kopi, baju baru, celana dalam bersih, mainan, kamar rapi, percakapan ringan, nonton, makan di luar ato di rumah, dan entah apalagi..
berlibur, akhir minggu sepertinya menjadi hari yang menyenangkan setelah 6 x 24 jam harus melewati hari dengan berpikir, rutinitas tentang bagaimana aku bisa melewati hari ini.
aku,,
hanya menikmatinya sambil ngopi dan memperbincangkan mereka yang ber weekend ria.
tentunya karena aku tidak ingin sendirian, berarti aku harus memanfaatkan kegelisan kawanku yang menunggu karibnya balik dari jalan jalannya untuk bisa menemaniku. meski sebenarnya kawanku berencana mudik, aku berusaha menghilangkan pikiran itu dalam lintasan otaknya. mengajaknya ngobrol dengan serius tentang apa saja, termasuk hal hal yang mungkin sederhana dan tidak perlu dibahas. kentut, masuk angin, udara dingin malang, anak kost, mahasiswa baru, gadis gadis pendatang baru, pacar sesaat, teman tapi mesra, kamar kost, kontrakan yang bebas aktif, kampung ato perumahan, aktivis, mahasiswa biasa alias kulpul ( kuliah pulang ), anak daerah ato anak ibukota, pelosok ato tengah kota, hotpants, babydol,
.. hmm, dari sekian pembicaraan kami, air muka kawanku terus berubah menjadi semakin gelisah saja.
matanya seringkali melirik hapenya, jari jarinya mengetik ngetik, dia sedang membalas pesan singkat rupanya.
dia aku kagetkan, dengan menunjukkan padanya, dikost depan warung kami ngopi ada gadis berjalan di teras lantai tiga hanya dengan bercelana pendek dan bertelanjang dada sambil menutupi dadanya dengan sehelai handuk kecil warna putih. kulit gadis itu tidak putih, hanya saja tubuhnya yang kecil berisi tampak begitu indah dan berbentuk. sumpah sexi, rambutnya basah, sepertinya habis mandi. duh! sumpah! sexi!
kawanku sontak menaruh hapenya dan langsung membenahi letak kacamatanya yang tebal agar tidak terlewatkan peristiwa itu. apalagi aku, meski mataku agak kabur dengan cuaca sore tetep ngotot memperhatikan peristiwa itu dengan hikmat.
aku menganggap kejadian itu kontraproduktif,
tidak lama selang beberapa menit, gadis itu berjalan lagi diteras tidak lagi tanpa pakaian, hanya saja pakaiannya tipis dan minim. tentunya masih kelihatan sexi juga,,
tidak lama juga gadis itu berjalan lagi diteras itu, dengan pakaian yang sama
tidak lama lagi gadis itu berjalan lagi dengan kondisi pakaian yang masih sama
berjalan lagi
melewati lagi teras itu
lama kelamaan, ternyata kejadian itu sudah tidak menarik lagi
ngga bombastik
membosankan
aku berpikir itu memang kebiasaan gadis itu
tidak lagi menjadi kejadian luar biasa hanya dalam hitungan puluhan menit.
kawanku ini, sebenarnya dia sudah tak ada lagi tanggungan di kampusnya. dia sudah selamat dan sukses menyelesaikan kuliahnya dan dinyatakan lulus meski harus dua kali menghadapi ujian kompre. dia tak banyak cerita tentang pacarnya, temen perempuannya, tetapi hampir bisa dipastikan setiap weekend dia selalu gelisah jika tidak bisa segera pulang.
aku jadi berpikir ulang tentang weekend, kenapa semua orang begitu riang menyambut kedatangannya.
sejenak, aku merasa sendirian. seolah orang orang disekitarku menjauh dan menghilang begitu saja. aku merasa hilang dari kerumunan meraka.
dulu aku akan berpikir tindakan itu adalah kontraproduktif. dulu.
ha ha.., sekarang, aku mempertanyakan ulang pendefinisian tentang kontraproduktif.
segala hal yang pada awalnya begitu mengejutkan, memukul, bombastik, mengalienasi, mengeliminir, ngewall, setiap kepentingan dari misimu tidak bisa dikatakan kontraproduktif. pertanyaan sebenarnya adalah bagaimana menghadapi dan menyikapi kejadian seperti itu.
Sabtu, 02 Juli 2011
adalah mereka
gang gang sudah menyempit
ceceran sampah sudah terserak
bau keringat sudah menyeruak
biang biang api puntung rokok padam
botol
gelas
kemasan snack
amis
aroma got yang berjajar tikus
riak kecil kehitaman
buih buih sabun sisa pemandian
adalah mereka
yang bergumul semalaman
dengan kaumnya yang papa
dengan bujang yang resah
dengan duda yang rengkah
dengan suami yang tingkah
penghiburan yang terlalu berlalu
rengkuhan nanar
keluhan diantaranya
adalah mereka
wc umum
tempat sampah
sauna
lokalisasi
spa
yang kau lupakan
telah teduhkan
telah seduhkan
jiwamu yang kehausan kepanasan
yang telah kau lupa
adalah mereka
ceceran sampah sudah terserak
bau keringat sudah menyeruak
biang biang api puntung rokok padam
botol
gelas
kemasan snack
amis
aroma got yang berjajar tikus
riak kecil kehitaman
buih buih sabun sisa pemandian
adalah mereka
yang bergumul semalaman
dengan kaumnya yang papa
dengan bujang yang resah
dengan duda yang rengkah
dengan suami yang tingkah
penghiburan yang terlalu berlalu
rengkuhan nanar
keluhan diantaranya
adalah mereka
wc umum
tempat sampah
sauna
lokalisasi
spa
yang kau lupakan
telah teduhkan
telah seduhkan
jiwamu yang kehausan kepanasan
yang telah kau lupa
adalah mereka
Kamis, 30 Juni 2011
Kamis, 09 Juni 2011
halamun,
petang tadi, di warung makan yang pelanggannya kebanyakan mahasiswa yang berpasang pasangan, yang berdandan tropik, celana pendek kaos oblong yang laki ataupun yang perempuan.
mati lampu yang beberapa jam,,
aku yang sedikit melamun.
di sebelahku, seorang kawan yang baru saja lulus. hanya saja, dia masih terbebani revisi revisi yang malah membuatnya seperti berada dalam suasana pengambilan gambar untuk sinetron yang dikejar tayang. tegang!
ia menanyakan apa saja yang ada dipikiranku ketika aku terhanyut lamun,
lamunanku buyar tiba tiba,,
apa yang ada dipikiranku?
hehe,,
aku selalu tersenyum untuk memulai sebuah percakapan,,
terlepas itu adalah senyum sinis, senyum licik, senyum picik, senyum kecut, senyum miris atau apapunlah sebutannya.
lalu, aku menarik napas panjang, napas yang aku gunakan untuk menghimpun segala penat yang menyelimuti otak dan kemudian aku hempaskan diikuti suaraku yang berubah menjadi parau dan sedikit berat saat selanjutnya berkata kata.
hmmm... apa yang aku pikirkan?
negara!
hehe..,
iya, aku sebagai warga negara yang bernegara
kawanku tersenyum memicingkan mata, menurutku itu respon yang meremehkan ucapanku.
banyak.
banyak hal yang ada dibenakku..
tapi,
untuk saat ini, aku lebih memilih untuk memikirkan bagaimana sekolahku bisa berlanjut.
banyak hal yang aku pertaruhkan,
aku beranggapan salah satu kunci yang membuka pintu kemana saja adalah studi.
begini..,
aku berusaha untuk membuatnya tidak lagi tersungut sungut apalagi memicingkan mata
dulu, waktu aku kecil
kata kata yang aku ingat dari bapakku hanyalah
"suatu saat, beberapa tahun kedepan saat anakmu sudah mulai dewasa
segala hal yang dilihat oleh orang hanya penampilan mereka saja"
itu adalah perkataan bapakku yang ditujukan pada ibuku.
huftt..,
tidak tahu kenapa, sepertinya kata kata itu sangat berpengaruh pada pemikiranku selanjutnya, yang mendasari setiap perilaku dan tindakan yang aku ambil ketika aku menghadapi situasi apapun.
aku jadi sangat tertantang untuk membuktikan bahwa kata kata bapakku itu adalah salah.
akupun tumbuh dengan berkeyakinan bahwa untuk menjadi orang yang dilihat sebagai manusia yang utuh tidak harus menjadi seperti orang inginkan. dan akupun menjadi orang yang semauku, sulit diatur dalam berpenampilan, acak kadut, liar, siapapun aku bantah,, tetangga, mbah, pakde, budhe, paklik, bulek.
aku menyukai berhadap-hadapan langsung, ketika aku berada dalam sebuah permasalahan. aku tidak suka orang yang berbicara di belakang, dan membuat versi yang berbeda dari sebuah peristiwa yang mereka ceritakan pada keluargaku.
itu masa masa dimana aku masih kecil,
aku melirik ekspresi wajah kawanku,
aku tidak ingin meihat dia tidak tertarik dengan ceritaku.
ah, sepertinya dia mulai jenuh
aku melanjutkan ceritaku,
bagiku, hal hal tadi sangat berhubungan erat dengan apa yang aku pikirkan saat ini.
perkataan bapakku, adalah benar benar terjadi sekarang ini.., dan aku berusaha untuk menjadi sosok yang kompromis, penuh siasat, sekaligus menjadi sosok yang jujur dalam waktu yang bersamaan. jujur saja, aku baru bisa menerima pemikiran kalo istilah jawanya " sing didelok iku prejengane, " dan banyak orang yang berkata padaku bahwa kekuranganku hanya satu itu, penampilan. lebih dari 26 orang yang berkata padaku ketika kami memperbincangka sesuatu dengan serius.
sekarang, di usiaku yang hampir menginjak 30an tahun. yang berarti, adalah separo dari umur rata rata manusia hidup di dunia. terkadang, aku menyesali banyak hal yang seharusnya tidak aku lewatkan begitu saja dalam kurun waktu 7 tahun ke belakang. mungkin hampir sewindhu, aku merasa menjadi orang yang sangat lambat untuk bisa menerima sebuah keadaan yang disitu aku diharuskan untuk menyerah.
mati lampu yang beberapa jam,,
aku yang sedikit melamun.
di sebelahku, seorang kawan yang baru saja lulus. hanya saja, dia masih terbebani revisi revisi yang malah membuatnya seperti berada dalam suasana pengambilan gambar untuk sinetron yang dikejar tayang. tegang!
ia menanyakan apa saja yang ada dipikiranku ketika aku terhanyut lamun,
lamunanku buyar tiba tiba,,
apa yang ada dipikiranku?
hehe,,
aku selalu tersenyum untuk memulai sebuah percakapan,,
terlepas itu adalah senyum sinis, senyum licik, senyum picik, senyum kecut, senyum miris atau apapunlah sebutannya.
lalu, aku menarik napas panjang, napas yang aku gunakan untuk menghimpun segala penat yang menyelimuti otak dan kemudian aku hempaskan diikuti suaraku yang berubah menjadi parau dan sedikit berat saat selanjutnya berkata kata.
hmmm... apa yang aku pikirkan?
negara!
hehe..,
iya, aku sebagai warga negara yang bernegara
kawanku tersenyum memicingkan mata, menurutku itu respon yang meremehkan ucapanku.
banyak.
banyak hal yang ada dibenakku..
tapi,
untuk saat ini, aku lebih memilih untuk memikirkan bagaimana sekolahku bisa berlanjut.
banyak hal yang aku pertaruhkan,
aku beranggapan salah satu kunci yang membuka pintu kemana saja adalah studi.
begini..,
aku berusaha untuk membuatnya tidak lagi tersungut sungut apalagi memicingkan mata
dulu, waktu aku kecil
kata kata yang aku ingat dari bapakku hanyalah
"suatu saat, beberapa tahun kedepan saat anakmu sudah mulai dewasa
segala hal yang dilihat oleh orang hanya penampilan mereka saja"
itu adalah perkataan bapakku yang ditujukan pada ibuku.
huftt..,
tidak tahu kenapa, sepertinya kata kata itu sangat berpengaruh pada pemikiranku selanjutnya, yang mendasari setiap perilaku dan tindakan yang aku ambil ketika aku menghadapi situasi apapun.
aku jadi sangat tertantang untuk membuktikan bahwa kata kata bapakku itu adalah salah.
akupun tumbuh dengan berkeyakinan bahwa untuk menjadi orang yang dilihat sebagai manusia yang utuh tidak harus menjadi seperti orang inginkan. dan akupun menjadi orang yang semauku, sulit diatur dalam berpenampilan, acak kadut, liar, siapapun aku bantah,, tetangga, mbah, pakde, budhe, paklik, bulek.
aku menyukai berhadap-hadapan langsung, ketika aku berada dalam sebuah permasalahan. aku tidak suka orang yang berbicara di belakang, dan membuat versi yang berbeda dari sebuah peristiwa yang mereka ceritakan pada keluargaku.
itu masa masa dimana aku masih kecil,
aku melirik ekspresi wajah kawanku,
aku tidak ingin meihat dia tidak tertarik dengan ceritaku.
ah, sepertinya dia mulai jenuh
aku melanjutkan ceritaku,
bagiku, hal hal tadi sangat berhubungan erat dengan apa yang aku pikirkan saat ini.
perkataan bapakku, adalah benar benar terjadi sekarang ini.., dan aku berusaha untuk menjadi sosok yang kompromis, penuh siasat, sekaligus menjadi sosok yang jujur dalam waktu yang bersamaan. jujur saja, aku baru bisa menerima pemikiran kalo istilah jawanya " sing didelok iku prejengane, " dan banyak orang yang berkata padaku bahwa kekuranganku hanya satu itu, penampilan. lebih dari 26 orang yang berkata padaku ketika kami memperbincangka sesuatu dengan serius.
sekarang, di usiaku yang hampir menginjak 30an tahun. yang berarti, adalah separo dari umur rata rata manusia hidup di dunia. terkadang, aku menyesali banyak hal yang seharusnya tidak aku lewatkan begitu saja dalam kurun waktu 7 tahun ke belakang. mungkin hampir sewindhu, aku merasa menjadi orang yang sangat lambat untuk bisa menerima sebuah keadaan yang disitu aku diharuskan untuk menyerah.
Rabu, 08 Juni 2011
aromamu kemarau..
kuas, pensil, cat cat,, ah tempertin!
kanvas, kertas kertas kosong..
jujur.., hal hal itu membuatku gundah. gundah, ketakutan yang tak terperikan. jari jari, pergelangan tangan, persendian, ubun ubun, tengkuk, otot kaki, sembilu ngilu..
jalan jalan, kembang randu, bau sangit asap asap daun dan ranting kering yang terbakar, benar benar aroma kemarau yang menggigilkan ingatanku, seperti angin yang berasal dari gunung gunung di kotamu, yang membuatmu berselimut tebal ditidur malammu.
aku menginginkannya dalam genangan cat, gurat gurat pensil, warna warna pelangi, senyum rengkuh belacu berukuran 140 x 90 sentimeter.
sekedar meluap sesak sesal membunuh kesal
aromamu yang kemarau,
menusuk tulang lunak hidungku
teluh peluhmu.
kanvas, kertas kertas kosong..
jujur.., hal hal itu membuatku gundah. gundah, ketakutan yang tak terperikan. jari jari, pergelangan tangan, persendian, ubun ubun, tengkuk, otot kaki, sembilu ngilu..
jalan jalan, kembang randu, bau sangit asap asap daun dan ranting kering yang terbakar, benar benar aroma kemarau yang menggigilkan ingatanku, seperti angin yang berasal dari gunung gunung di kotamu, yang membuatmu berselimut tebal ditidur malammu.
aku menginginkannya dalam genangan cat, gurat gurat pensil, warna warna pelangi, senyum rengkuh belacu berukuran 140 x 90 sentimeter.
sekedar meluap sesak sesal membunuh kesal
aromamu yang kemarau,
menusuk tulang lunak hidungku
teluh peluhmu.
Selasa, 07 Juni 2011
seperti itu..
aku seperti anak anak itu,,
ia kehilangan bonekanya, boneka yang menemaninya membangun dunia teragung
tercantik yang pernah dibuat
aku tak lagi mampu mengolesi kertas kertas itu dengan bercak bercak
yang mungkin bagimu ini hanya coretan anak kecil yang ia sendiri tak pernah,
tak pernah memahami kenapa dan untuk apa ia menuliskannya begitu saja
kau ingat?
seperti apa kau memperlakukan boneka bonekamu,,
memainkan robot robotanmu,
mengendarai mobil mobilanmu,
kau ingat,,
sepertinya kau memperlakukan mereka adalah sesuatu yang benar benar ada
dan selalu bisa ada disetiap ceritamu
yang menemanimu tertawa,
yang menemanimu menangis,
yang menemanimu terkekeh,
yang menemanimu marah,
yang membuatmu kecewa,
yang kau jadikan alasan
dari segala hal kesalahan yang pernah kau rasakan
dan kemudian,
ia pergi begitu saja..
seperti apa diriku?
yang mencampakkan segala hal begitu saja,,
kemudian beranggapan
mereka tak pernah hadir,
...
igau terampas kicauan burung yang tak merdu
kita pergi begitu saja,
menyisakan mimpi yang aku sendiri
tak pernah menyadari itu ada
ia kehilangan bonekanya, boneka yang menemaninya membangun dunia teragung
tercantik yang pernah dibuat
aku tak lagi mampu mengolesi kertas kertas itu dengan bercak bercak
yang mungkin bagimu ini hanya coretan anak kecil yang ia sendiri tak pernah,
tak pernah memahami kenapa dan untuk apa ia menuliskannya begitu saja
kau ingat?
seperti apa kau memperlakukan boneka bonekamu,,
memainkan robot robotanmu,
mengendarai mobil mobilanmu,
kau ingat,,
sepertinya kau memperlakukan mereka adalah sesuatu yang benar benar ada
dan selalu bisa ada disetiap ceritamu
yang menemanimu tertawa,
yang menemanimu menangis,
yang menemanimu terkekeh,
yang menemanimu marah,
yang membuatmu kecewa,
yang kau jadikan alasan
dari segala hal kesalahan yang pernah kau rasakan
dan kemudian,
ia pergi begitu saja..
seperti apa diriku?
yang mencampakkan segala hal begitu saja,,
kemudian beranggapan
mereka tak pernah hadir,
...
igau terampas kicauan burung yang tak merdu
kita pergi begitu saja,
menyisakan mimpi yang aku sendiri
tak pernah menyadari itu ada
permainan?
itulah, kenapa disebut impresi.
dalam dekat dekapmu telunjukmu hanya mencolek serpih serpihan.
matamu temaram, hidungmu memerah, otot pipimu semu membiru.
kau hanya bagian kecil permainan, bagian kecil serpih serpihan,,
sedikit menjauh, kau kumpulkan sejentik jentik rupa mereka ..
lihat! sudah berbentuk,
ssstt.. jangan pernah menceritakan pada siapapun....
dalam dekat dekapmu telunjukmu hanya mencolek serpih serpihan.
matamu temaram, hidungmu memerah, otot pipimu semu membiru.
kau hanya bagian kecil permainan, bagian kecil serpih serpihan,,
sedikit menjauh, kau kumpulkan sejentik jentik rupa mereka ..
lihat! sudah berbentuk,
ssstt.. jangan pernah menceritakan pada siapapun....
Sabtu, 08 Januari 2011
Langganan:
Postingan (Atom)


