petang tadi, di warung makan yang pelanggannya kebanyakan mahasiswa yang berpasang pasangan, yang berdandan tropik, celana pendek kaos oblong yang laki ataupun yang perempuan.
mati lampu yang beberapa jam,,
aku yang sedikit melamun.
di sebelahku, seorang kawan yang baru saja lulus. hanya saja, dia masih terbebani revisi revisi yang malah membuatnya seperti berada dalam suasana pengambilan gambar untuk sinetron yang dikejar tayang. tegang!
ia menanyakan apa saja yang ada dipikiranku ketika aku terhanyut lamun,
lamunanku buyar tiba tiba,,
apa yang ada dipikiranku?
hehe,,
aku selalu tersenyum untuk memulai sebuah percakapan,,
terlepas itu adalah senyum sinis, senyum licik, senyum picik, senyum kecut, senyum miris atau apapunlah sebutannya.
lalu, aku menarik napas panjang, napas yang aku gunakan untuk menghimpun segala penat yang menyelimuti otak dan kemudian aku hempaskan diikuti suaraku yang berubah menjadi parau dan sedikit berat saat selanjutnya berkata kata.
hmmm... apa yang aku pikirkan?
negara!
hehe..,
iya, aku sebagai warga negara yang bernegara
kawanku tersenyum memicingkan mata, menurutku itu respon yang meremehkan ucapanku.
banyak.
banyak hal yang ada dibenakku..
tapi,
untuk saat ini, aku lebih memilih untuk memikirkan bagaimana sekolahku bisa berlanjut.
banyak hal yang aku pertaruhkan,
aku beranggapan salah satu kunci yang membuka pintu kemana saja adalah studi.
begini..,
aku berusaha untuk membuatnya tidak lagi tersungut sungut apalagi memicingkan mata
dulu, waktu aku kecil
kata kata yang aku ingat dari bapakku hanyalah
"suatu saat, beberapa tahun kedepan saat anakmu sudah mulai dewasa
segala hal yang dilihat oleh orang hanya penampilan mereka saja"
itu adalah perkataan bapakku yang ditujukan pada ibuku.
huftt..,
tidak tahu kenapa, sepertinya kata kata itu sangat berpengaruh pada pemikiranku selanjutnya, yang mendasari setiap perilaku dan tindakan yang aku ambil ketika aku menghadapi situasi apapun.
aku jadi sangat tertantang untuk membuktikan bahwa kata kata bapakku itu adalah salah.
akupun tumbuh dengan berkeyakinan bahwa untuk menjadi orang yang dilihat sebagai manusia yang utuh tidak harus menjadi seperti orang inginkan. dan akupun menjadi orang yang semauku, sulit diatur dalam berpenampilan, acak kadut, liar, siapapun aku bantah,, tetangga, mbah, pakde, budhe, paklik, bulek.
aku menyukai berhadap-hadapan langsung, ketika aku berada dalam sebuah permasalahan. aku tidak suka orang yang berbicara di belakang, dan membuat versi yang berbeda dari sebuah peristiwa yang mereka ceritakan pada keluargaku.
itu masa masa dimana aku masih kecil,
aku melirik ekspresi wajah kawanku,
aku tidak ingin meihat dia tidak tertarik dengan ceritaku.
ah, sepertinya dia mulai jenuh
aku melanjutkan ceritaku,
bagiku, hal hal tadi sangat berhubungan erat dengan apa yang aku pikirkan saat ini.
perkataan bapakku, adalah benar benar terjadi sekarang ini.., dan aku berusaha untuk menjadi sosok yang kompromis, penuh siasat, sekaligus menjadi sosok yang jujur dalam waktu yang bersamaan. jujur saja, aku baru bisa menerima pemikiran kalo istilah jawanya " sing didelok iku prejengane, " dan banyak orang yang berkata padaku bahwa kekuranganku hanya satu itu, penampilan. lebih dari 26 orang yang berkata padaku ketika kami memperbincangka sesuatu dengan serius.
sekarang, di usiaku yang hampir menginjak 30an tahun. yang berarti, adalah separo dari umur rata rata manusia hidup di dunia. terkadang, aku menyesali banyak hal yang seharusnya tidak aku lewatkan begitu saja dalam kurun waktu 7 tahun ke belakang. mungkin hampir sewindhu, aku merasa menjadi orang yang sangat lambat untuk bisa menerima sebuah keadaan yang disitu aku diharuskan untuk menyerah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar