mengenangmu,
semua berawal sewindu yang lalu..., dentang detik detik matahari terbit dari balik gunung yang selalu kukagumi karena mengingatkanku tentang bagaimana seharusnya sebagai seorang lelaki.
semua ingatan masa kecilku menyeruak.. menyembur sederas air kencing pagi hari.
bagaimana aku dulu adalah anak kecil yang tak pernah tidur lama dengan bapak ibu,
bagaimana aku bangun setiap pagi dengan senyuman nenek kakekku, dengkuran kucing, secangkir kopi, teriakan kambing, kambing itu yang kuminta dengan tanpa bantahan dari mereka, layang layang rangkaian kakek yang bisa kuterbangkan dengan mudah ketika sekali kutarik, mengantongi mobil mobilan logam yang dibawakan mbah kung dari surabaya untuk adikku, aku ingat betul bagaimana aku merampasnya dari adikku waktu itu.
tidak ada yang mendapatkan perlakuan seperti itu selain aku didalam keluarga besarku.
"le!?" mereka memanggilku, selembut dan sehangat kain jarik yang menyelimutiku sewaktu malam.
ini masih cerita yang sedikit, dari sebesar catatan kaki yang ku ingat!
aku tidak punya banyak kenangan bersama orang tuaku.., bahkan sampai saat ini.
dan ingatanku masih menyeruak sederas air kencing pagi hari..
kakekku,, aku ingat dulu bagaimana ia membangunkanku tengah malam lalu menggendongku diatas punggungnya lalu menonton tayub. kakek,, ..ia menceritakan bagaimana kakek, paman, ayahku dulu, sangat menikmati tayuban. menari beksan, minum, memangku kledek. mereka hebat jika berpesta! seringkali kakek mengulang ngulang kata katanya, " tayub iku ben dadi guyub!". waktu itu, aku hanya memperhatikan mimik wajah kakek, ..tersenyum, tenang, tertawa, berbinar binar matanya, ompong mulutnya ..ia begitu bahagia. seolah, kalaupun besok jadi pikun dan bertingkah konyol layaknya anak kecil ia sudah tidak peduli lagi.
tayub,, ..kemudian akupun menggemarinya! seolah sudah mendarah daging, hanya saja aku tidak begitu terampil menari. masa remajaku, aku akan menelusuri dimana saja asal suara gong berbunyi. awalnya, aku hanya menonton saja. lambat laun, bertambah umurku, bertambah kawan kawanku, bertambah keberanianku. akupun melenggang, akupun menari, akupun menatap pupil kledek itu, akupun mengalungkan tanganku padanya, akupun ..sendirian. tidak ada lagi orang lain yang menari disekitarku, tidak ada lagi teriakan sumbang, nyanyian penari lain yang mabuk. akupun ..sendirian. akupun menari.. dan mabuk.
ruangan pesta tayub itu selalu gaduh, penuh sesak,, perempuan perempuan tua muda, mereka menikmati suami suami, anak anak lelakinya menari, mengerumuni kledek. mereka bangga, mereka tertawa, mereka tersipu, ..melihat tingkah lelaki lelakinya mengerumuni kledek kledek itu. aku tak pernah tahu kenapa mereka, perempuan perempuan itu sangat menikmatinya.
sampai suatu ketika,,
aku memahami sesuatu
..aku tahu kenapa mereka bangga, kenapa mereka tertawa, kenapa mereka tersipu.
umurku belum genap 15 tahun ketika memulai petualanganku. bergegas dari tempat tidur yang selalu memberikanku mimpi mimpi tentang kota kota besar. kota besar dengan segala hiruk pikuk keramahan dan gemerlapnya, dunia yang selalu cantik, rapi, bersih dibalik tabung televisi, suara suara merdu dibalik box radio, mitos tentang raksasa raksasa dan ksatria dibalik dongeng dongeng orang tua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar